TENTANG KAMI

Sejarah Kampung Apung
Ada sejarah yang menyebabkan mengapa wilayah itu dijuluki “kampung apung”. Menurut Djuhri, ini dikarenakan wilayah mereka yang selalu tergenang air 1,5–2 meter, padahal dulunya wilayah ini merupakan daerah/dataran yang paling tinggi dan selalu dijadikan tempat mengungsi bagi warga di pinggiran laut Jakarta. “Di atas sekolah ini dulunya areal pemakaman. Kita tahu kalau pemakaman itu merupakan dataran yang tinggi, tapi sekarang justru terendam,” terang Djuhri prihatin. Menurutnya, daerah ini mulai tergenang sejak tahun 1989. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya pembangunan di kawasan sekitarnya, seperti pabrik, gudang, dan juga pemukiman elit. Tak heran jika di daerah ini banyak rumah warga yang tetap terendam air, meski di musim kemarau sekalipun.

Tidak hanya berpangku tangan dan menyesali keadaan lingkungannya, warga yang difasilitasi oleh Yayasan Nurani Dunia dan Standard Chartered Bank kemudian melakukan pembenahan terhadap lingkungannya. Langkah pertama yang dilakukan adalah membersihkan sampah-sampah yang menumpuk. “Sampah ini terbawa saat banjir, dan ketika air surut, sampah ini kemudian mengendap hingga menumpuk,” terang Djuhri. Kedua adalah membangun jalan beton sebagai akses warga. “Dulu setiap kali banjir, jalan itu hanyut sehingga banyak warga yang terkurung dan tidak bisa beraktivitas di luar,” kata Djuhri mengenang. Dengan adanya jalan itu, maka warga tak perlu lagi khawatir ketika banjir menggenang, mereka masih tetap dapat beraktivitas: bekerja, sekolah, ke pasar, dan lainnya. Selain itu, warga juga diajak untuk memanfaatkan lahan yang ada dengan memelihara ikan dan bercocok tanam.

STRUKTUR KEPENGURUSAN

struktur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: